Dari
perkenalan kemarin, aku mulai menaruh harapan kecil padamu. Namun tak terlalu,
karna disaat awal kita berkenalan. Aku bermaksud untuk melupakan seseorang yang
seharusnya aku lupakan. Harapanku padamu berawal hany sekedar teman dekat, yang
ingin slalu bertukar pikiran denganku.
Lambat
laun, waktu berjalan sesuai porosnya. Angin bertiup sesuai inginnya. Dan kaki
melangkah sesuai harapnya. Kau berharap ini hal yang lebih dari sekedar itu. Sayangnya,
aku tak bisa menyanggupi. Aku masih menyimpan seseorang yang harusnya aku
lupakan itu. Dan aku pikir, kau tak bisa menerimanya.
Lama
kelamaan aku semakin melihat jarak yang awalnya terlalu dekat, sekarang menjadi
terlalu renggang. Tapi sial, disaat rasa kerenggangan itu hadir. Rasaku yang
waktu itu kau harapkan, hadir. Aku berpikir ini belum terlambat. Aku masih ada
harapan.
Aku
tetap menghubungi melalui akun twittermu. Karna semenjak kerenggangan itu
hadir, nomer handphonemu tak lagi kau berikan padaku. Dan disaat aku minta, kau
lebih memilih untuk berkata “hubungi dari mention aja. pasti aku balas. Handphoneku
sekarang jarang aktif, dan pulsaku jarang ada”. Aku pun mengiyakan ungkapanmu. Aku
selalu menghungimu lewat akun twittermu. Setiap rasa penasaranku tentangmu, aku
lalui dengan mengirim pesan lewat twitter atau mention kepadamu.
Pernah
aku meminta lagi nomer handphonemu dari akun twittermu. Tapi jawabmu tetap sama
seperti yang kemarin. Sekarang aku merasa kerenggangan itu semakin jelas. Tapi hatiku
tetap memilih bertahan. Aku tetap merasa kesempatan itu masih ada. Sampai sekarang
kau tlah bersamanya pun, aku tetap merasakan kalau kesempatan itu masih ada.
Close enough to see it’s
true,
Close enough to trust in you,
Closer now than any words can
say

Komentar
Posting Komentar