Hai, raion. Kamu apa kabar? Ku harap, kabarmu baik. Walau tak
pernah dapat ku pastikan bagaimana kabarmu sebenarnya disetiap harinya. Kamu masih
ingat, enggak? Waktu pertama kali kita saling mengenal, ataupun waktu pertama
kali social media kita saling bertaut.
Raion… Kalau aku boleh jujur. Dari awal kita saling
mengenal. Ada hal berbeda yang aku rasakan yang sebelumnya belum pernah aku
rasakan di orang lain. Walau sampai saat ini pun aku belum mengetahui hal itu
apa. Dulu, sebelum kita akhirnya berkenalan. Disaat hubungan kita masih hanya
sekedar social media yang bertautan. Aku suka mempehatikanmu. Melihat feed Instagram-mu,
instastory-mu, yang walau terkadang tidak ada pergerakan apa-apa. Terkadang iseng
sembari menggeser kursor keatas-bawah saat melihat feedmu. Bibirku bersholawat.
Aku merasa kamu cukup mengagumkan, raion.
Kalau aku tidak salah mengingat. Interaksi awal kita adalah
disaat aku terkena musibah pertengahan tahun lalu. Kamu, mencoba menguatkan aku
dan menberikanmu sebuah doa untuk musibah kemarin.
“sabar ya. InsyaaAllah akan Allah berikan gantinya yang
lebih nanti”
Sungguh, saat itu aku kaget. Tetapi karena kekalutan
pikiranku. Aku hanya membalas sekedarnya. Aku mulai memikirkan hal itu
sekarang. Disaat hal itu telah berlalu begitu lama. Setelah hari itu, kita
tidak pernah lagi berkomunikasi. Segan sih.
Hingga, pada akhir bulan Oktober kemarin. Kejadian yang sama
kembali terulang. Kamu, kembali membalas postingan instastrory-ku. Tetapi kali
ini bukan tentang musibah. Hanya tentang hal-hal yang tidak begitu penting. Hehe
Kali ini percakapan kita cukup panjang. Tidak seperti waktu
itu. Kamu ingat enggak apa yang kamu ucapkan waktu itu?
Dan, dari percakapan itulah awal hubungan kita yang terjalin
sekarang terjadi. Setelah malam itu, percakapan kita mulai intens bukan? Kita mulai
sering bertukar kabar, cerita, hingga akhirnya mungkin bertukar hati? Atau hanya
aku yang menukar hatiku disini, rai?
Sebulan berlalu, kita semakin akrab. Walau terkadang,
sikapmu berubah-ubah. Moodmu naik-turun. Yang aku enggak pernah tahu apa
alasannya. Terkadang kamu begitu manis dan hangat. Dan disaat aku mendekat. Tiba-tiba
sikapmu berubah kembali menjadi pahit dan dingin. Namun tetap saja, aku tidak
pernah mengetahui apa alasannya. Terkadang raion, aku merasa sikapmu terasa aneh
seperti ini sejak kita saling mengenal. Karena, dulu.. disaat kita belum saling
dekat dan akrab. Feedmu terlihat baik-baik saja. Bio di Instagram milikmu tidak
pernah terisi hal yang berubah-ubah. Tetapi, terkadang aku berpikir mungkin itu
hanya perasaanku saja. Siapalah aku? Bagaimana mungkin aku memiliki peran dalam
hidupmu.
Aku sering bilang. Kamu terlalu baik untuk aku. Terlalu istimewa.
Terlalu mewah. Kalau kata istilah anak-anak zaman sekarang, “kamu terlalu
Barakallah fii umrik, untuk aku yang hbd ea”. Kamu suka ketawa kalau aku bilang
gitu. Padahal aku serius loh bilangnya.
Aku pernah mengira jikalau apa yang tak sengaja hadir dihati
aku ini, juga hadir dihatimu. Namun ternyata tidak. Awal tahun kemarin, kamu
akhirnya memberikan aku jawab atas segala tanya yang aku punya selama ini. Hatimu,
dimiliki orang lain. Dan kalian berkomitmen.
Raion, terima kasih ya. Kamu udah hadir dihidup aku. Memberi
warna baru pada hidup aku. Dari kamu aku juga belajar banyak hal. Kamu itu
seperti senja. Yang berani memberikan jingganya pada birunya langit yang indah.
Walau hanya sesaat. Banyak orang tetap kagum pada hadirnya. Seperti kamu dalam
hidup aku. Walau sesaat, kamu sempat memberikan keindahan yang mungkin tidak
akan mudah untuk aku lupakan.
Aku harap. Semoga kamu selalu bahagia ya raion.
Bersama wanitamu.
Yang akan selalu mebuatmu bahagia tanpa jeda.
Aamiin.
Komentar
Posting Komentar