Disetiap langkahku, ku kan
slalu memikirkan dirimu. Tapi tak ku bayangkan hidupku tanpa cintamu…
Aku disini, di tempat biasa kamu dan aku dulu bertemu. Bukan karna aku
merindukanmu. Aku hanya ingin menenangkan sedikit pikiranku tentang hal-hal
yang sedang mengelutin duniaku. Ditemani dengan laptopku, pikiranku berputar
dan berangan. Andai sekarang kamu disini. Andai dulu aku tak diam. Andai dulu
aku menjawab ucapmu. Yang mengungkap tentang perasaanmu di depan banyak teman-temanmu,
namun tak aku hiraukan. Aku lebih memilih untuk diam, dan pergi meninggalkamu
dengan harapan-harapan yang tak pasti.
Ariandra Wijaya. Itu lah nama yang telah disematkan orang tuamu kepadamu waktu
itu. Tepatnya 19 tahun yang lalu. Aku masih ingat, waktu awal kita berkenalan.
Unik, lucu, dan sangat manis untuk dikenang. Waktu itu aku bersama temanku yang
juga sepupumu sedang asik mengerjakan tugas ditempat yang sama yang biasa kita
gunakan untuk bertemu. Awalnya aku pikir, waktu itu kau datang memang hanya
untuk memanggil Rani yang kebetulan dipanggil ibunya waktu itu. Dan kau pun
tinggal..
Saat itu kita berkenalan, kau begitu ramah, kau pun mampu membuat suasana
begitu cair. Tak mudah bagiku untuk akrab kepada lelaki asing yang sama sekali
belum pernah aku lihat. Tapi kau mampu memecahnya. Senyummu merekah di depanku.
Bibirmu yang merah, dan susunan gigimu yang rapi. Buat aku cukup takjub. Lain
lagi terselip gingsulmu. Itu hal yang paling buat aku terpesona.
Kau yang memulai semuanya. Mulai dari menanyakan rumahku, siapa mamaku, juga
tentang hobiku. Yang membuatku jadi tau kalau kamu adlah atlit junior di cabang
olahraga sepak bola. Sejak itu hubungan kita semakin dekat. Bahkan, kau pernah
rela menjemputku untuk ke taman disaat aku lagi tak berkunjung kesana. Karna
biasanya, aku ketaman itu hanya kalau ada tugas yang harus aku kerjakan bersama
rani.
Namun hari itu, disaat kau menjemputku untuk mengajak aku ke taman. Aku
menolaknya. Karna waktu itu aku sedang sakit. Aku pun hanya keluar sebentar
untuk menjawab setiap inginmu yang namun tak bisa untuk aku penuhin. “kamu ada
waktu sebentar?”. “kenapa? Ada hal yang bisa aku bantu?”ucapku yang saat itu
tlah berdiri disampingnya. “ke taman yuk. Sebentar aja…”. “maaf ya, aku lagi
sakit. Aku gak akan di izinkan untuk keluar oleh mamaku”. Dengan rasa kecewa
yang tergambar diwajahmu, kau pergi meninggalkanku. Aku merasa tlah berdosa.
Sekarang
semua telah berubah, begitu juga kamu, begitu juga aku, begitu juga kita.
Bahkan waktu telah menghapus KITA yang pernah merasa tak berbeda, waktu telah
memutarbalikkan segalanya yang sempat indah. Tak ada yang tahu, kapan
perpisahan menjadi penyebab kegelisahan. Dan andai tuhan mengizinkan waktu itu
kembali, aku janji. Aku pasti akan jawab iya atas ungkapanmu yang tertuju
padaku saat itu.
Kita tak akan pernah bisa mengerti pada waktu.
Kapan dia kan berhenti dikita.
Dan kapan dia akan berhenti diorang lain.
Tapi satu hal yang harus kita tau,

Komentar
Posting Komentar