Aku rindu
tertawa denganmu. Aku rindu akan setiap leluconmu. Bahkan bersandar dibahumu
pun, itu hal yang aku rindukan…
“Aku penasaran
bagaimana wajah sedihmu. kamu tak pernah sekali pun aku lihat cemberut. Bibir manismu
itu selalu saja melengkung menggambarkan senyuman yang manis. Tapi aku tak
ingin menjadi alasanmu menjadi sedih.”
Itu ucapanmu saat itu. Sebelum jarak ini
ada. Sebelum kamu pun pergi dibawa oleh waktu yang mempengaruhimu dengan
keadaan kita yang tak pernah lebih dari sebatas sahabat. Pernah. Kamu bertanya
padaku tentang hal itu. Namun aku tak pernah menjawabnya. Perhatianmu terlampau
penuh untuk mewarnai hariku, dan aku pun membalasnya. Aku pikir itu cukup jelas
bagaimana perasaanku kepadamu.
Kamu selalu khawatir akan keadaanku. Disaat
aku enggak hadir kesekolah, pasti kamu langsung sms aku dan menanyakan aku
kemana. Dan pikiranmu selalu khawatir aku sakit. Dan disaat aku sakit,
perhatianmu pun habis kau tuangkan padaku. Aku rindu itu. Aku rindu disaat kau
menjadi alas an aku tertawa. Aku dirindu disaat kita duduk bareng. Aku rindu
saat kita makan bareng. Aku juga rindu mendengar curhatmu disela-sela jam
pelajaran yang menurut kita membosankan.
Kamu. Lelaki yang gak pernah aku tau,
bagaimana cara untuk melupakannya. Terlarut manis. Hingga aku sulit untuk
melepaskannya. Baru kamu, lelaki yang rela mengabiskan waktu malamnya hanya
untuk mendengarkan setiap curhatku. Baru kamu, lelaki yang mampu merubah mood
burukku menjadi baik lagi. Bahkan, hal yang tak patut kamu ingat. Kamu mengingatnya.
Hm, jadwal datang bulanku. Kau tau itu. Jadi disetiap tanggal dimana jadwal itu
hadir, kamu gak akan mengajak aku ke musholah untuk sholat bareng.
Aku suka benci dan marah sama diriku
sendiri. Andai waktu itu aku jawab tentang rasa ini. Mungkin kau tak bosan
untuk menunggu. Mungkin kau pun tak akan
pernah pergi. Bahkan, mungkin kau masih disampingku. Menjadi alasanku untuk
tertawa dan tersenyum, atas setiap lelucon yang terlontar dari mulutmu.
Dulu aku pernah bilang ke kamu. Kalau nanti
kita terpisah, apa kita masih kan seperti ini. Kau pun menjawab “iya”. Aku hanya
tersenyum tanpa menjawab apa pun. Pernah, disela sebelum
kita benar-benar terpisah. Aku menjauhimu. Tak menegurmu. Dan menghindarimu.
Kau marah. Kau Tanya padaku “kamu kenapa? Aku ada salah apa?”. Jahatnya aku tak
menjawabnya dan langsung pergi. Sampai akhirnya aku memilih berhenti untuk diam dan memulai untuk bicara denganmu lagi. Aku
mengirimkan sms kepadamu.
“Respatih…”
Dengan cepat balasmu
langsung masuk. “Iya,tha. Kenapa?”
“enggak. Kenapa nomer
aku masih disimpan res?”
“haruslah”
“kok harus?”
“karna hubungan kita
ini, tak akan pernah benar-benar terhapus”.
Aku terdiam. Tak tau harus menjawab apa. Jika
itu benar, apakah jarak yang saat ini ada diantara kita tak benar-benar ada? Apakah
suatu hari kita akan kembali lagi? Mungkin.
Bukan
aku yang memintanya. Apalagi berharap. Tapi tuhan yang menghadirkannya diantara
kita. Inilah cinta.
Komentar
Posting Komentar