Ini
kedua kalinya aku mendengar dentangan jam di ruang perpustakaan ini. Dan
orang yang berjanji untuk hadir dari satu jam yang lalu belum juga hadir. 15
menit lagi kelas aku akan dimulai. Aku mulai merapikan buku-buku yang
berserakan di meja tempat aku duduk. Perlahan tapi pasti. Aku lelah menunggu
ketidakpastian yang terlalu sering dia janjikan, walau cendrung selalu dia
ingkari. Namun cinta tetap membuatku terus bertahan dan mengerti akan setiap
alasan-alasan yang dia hadirkan.
“tumben
kamu lama masuk, sin? Gak biasanya gini? Lagi sakit atau gimana?”
“enggak.
Tadi aku nungguin Ryan di perpus. Dia minta aku bantuin buat makalahnya tentang
kebudayaan masyarakat Indonesia dari Yogya. Tapi udah dua jam aku nungguin dia.
Dia enggak datang juga.”
“udah
di telpon atau sms?”
“enggak,
jangan ah. Aku takut dia lagi sibuk, mungkin enggak bisa diganggu.”
“hmm,
sabar ya sintya”peluknya sambil mencoba untuk tetap membuatku tenang. Milana
Indriani. Dia temen sekelas aku. Anaknya peduli banget sama aku. Baik. Yaa,
begini lah. Setiap kali aku ada masalah. Dia slalu perhatian sama aku. Bahkan
dia pernah rela malem-malem datang ke kosan aku hanya untuk dengerin aku
curhat. Dan akhirnya dia nginap deh dikos aku.
Disaat
kelas berakhir, tiba-tiba Ryan ada di depan pintu kelas. Entah alasan apa lagi
yang akan dibuatnya hari ini. Tiba-tiba temennya ngajak dia ngerjain tugas
bareng atau apa lagi?
“sin,
maafin aku ya. Tadi aku ada kendala di jalan. Tiba-tiba ban motor aku bocor.
Ini aja aku sampe enggak masuk kelas demi nunggu kamu disini. Pasti kamu lama ya
nunggu aku? Maaf ya sayang. Janji, aku gak akan ulangin lagi. Kalau pun
terjadi kayak gini lagi, aku pasti langsung ngasih kabar ke kamu. Maaf ya”
Aku
menatap lekat wajahnya. Matanya terlihat sendu. Dan aku terhipnotis lagi dengan
kehebatannya yang merayuku. Suaranya yang merendah. Tatapannya. Membuat aku
selalu yakin. Dia enggak akan bohongi aku. Dan untuk kesekian kalinya aku
memaafkannya. Lalu dia memelukku, kemudian menggenggam tanganku untuk menuntunku
jalan disampingnya. Selalu begitu.
Terkadang
ingin rasanya aku memberontak. Tidak mendengar keluhannya. Tidak mau mengerti
apapun yang terjadi padanya. Ingin rasanya. Ngambek dan cuek padanya. Enggan mempedulikan celotehan manisnya yang slalu membuatku luluh disaat aku marah.
Tetapi aku tak berdaya. Mungkin ini karena cinta.
Aku
memberhentikan langkahku yang sejak tadi terus mengikuti kemana pun kakimu
melangkah. Tanganmu pun tertahan oleh genggamanku. Dan secara tidak langsung
langkahmu pun terhenti. Kamu langsung berbalik ke arahku. “kenapa sin?” aku
seperti tak tersadar. Aku melamun.
“sintya...”tangannya
menyentuh wajahku, merapikan helaian rambutku dan menyentuhnya lembut. Dia
romantis. “sayang..” panggilnya lagi.
“eh...”
“kok
ngelamun? Ada apa?”kali ini raut wajahnya berubah heran. “ada masalah?
Cerita lah” tangannya menuntunku ke arah tempat duduk yang ada di sekitar kami.
“yan, kamu
pernah enggak. Ngerasa seseorang itu adalah belahan jiwa kamu. The one and
only?”ucapku sambil menatap raut wajahnya yang terlihat semakin heran. Entah
karna sifatku yang tiba-tiba ini. Atau karena bingung dengan pertanyaan yang
telah ku berikan.
“the
one and only? Entahlah. Kenapa?”
Aku
kaget dengan jawabnya. Sedikit kecewa. Karena jawaban yang aku harapkan tidak
keluar dari bibirnya yang terlalu sering membuatku luluh. Wajahnya sekarang
terlihat sedikit tenang. Seolah-olah dia tak merasakan hal yang aku rasakan
sekarang. Atau mungkin memang tidak. Atau mungkin hanya aku yang terlalu
mencinta disini? Lalu apa posisi aku dimata dia? Aku kembali melamun. Hal
sepele sih. Ini lah perasaan wanita. Sesuatu yang sederhana pun mampu membuat
hatinya tergoreskan luka. Namun hatinya tetap tegar diatas luka yang terkadang
cendrung hadir dari pikiran-pikiran sederhananya.
“sin, kamu
laper enggak? Makan dulu yuk.”tatapan matanya masih sama. Aku mencoba melupakan
hal tadi. Aku tak ingin membuat masalah. Aku tak ingin memperkeruh suasana. Umurku
bukanlah lagi umur yang wajar untuk mempermainkan suatu hubungan. Mungkin tuhan
punya rencana lain tentang ini. Everthing happen for a reason..
Pergi atau Tetap Tinggal (2)
Pergi atau Tetap Tinggal (2)

Komentar
Posting Komentar