Langsung ke konten utama

Pergi atau Tetap Tinggal (1)



                Ini kedua kalinya aku mendengar dentangan jam di ruang perpustakaan ini. Dan orang yang berjanji untuk hadir dari satu jam yang lalu belum juga hadir. 15 menit lagi kelas aku akan dimulai. Aku mulai merapikan buku-buku yang berserakan di meja tempat aku duduk. Perlahan tapi pasti. Aku lelah menunggu ketidakpastian yang terlalu sering dia janjikan, walau cendrung selalu dia ingkari. Namun cinta tetap membuatku terus bertahan dan mengerti akan setiap alasan-alasan yang dia hadirkan.
                “tumben kamu lama masuk, sin? Gak biasanya gini? Lagi sakit atau gimana?”
                “enggak. Tadi aku nungguin Ryan di perpus. Dia minta aku bantuin buat makalahnya tentang kebudayaan masyarakat Indonesia dari Yogya. Tapi udah dua jam aku nungguin dia. Dia enggak datang juga.”
                “udah di telpon atau sms?”
                “enggak, jangan ah. Aku takut dia lagi sibuk, mungkin enggak bisa diganggu.”
                “hmm, sabar ya sintya”peluknya sambil mencoba untuk tetap membuatku tenang. Milana Indriani. Dia temen sekelas aku. Anaknya peduli banget sama aku. Baik. Yaa, begini lah. Setiap kali aku ada masalah. Dia slalu perhatian sama aku. Bahkan dia pernah rela malem-malem datang ke kosan aku hanya untuk dengerin aku curhat. Dan akhirnya dia nginap deh dikos aku.
                Disaat kelas berakhir, tiba-tiba Ryan ada di depan pintu kelas. Entah alasan apa lagi yang akan dibuatnya hari ini. Tiba-tiba temennya ngajak dia ngerjain tugas bareng atau apa lagi?
                “sin, maafin aku ya. Tadi aku ada kendala di jalan. Tiba-tiba ban motor aku bocor. Ini aja aku sampe enggak masuk kelas demi nunggu kamu disini. Pasti kamu lama ya nunggu aku? Maaf ya sayang. Janji, aku gak akan ulangin lagi. Kalau pun terjadi kayak gini lagi, aku pasti langsung ngasih kabar ke kamu. Maaf ya”
                Aku menatap lekat wajahnya. Matanya terlihat sendu. Dan aku terhipnotis lagi dengan kehebatannya yang merayuku. Suaranya yang merendah. Tatapannya. Membuat aku selalu yakin. Dia enggak akan bohongi aku. Dan untuk kesekian kalinya aku memaafkannya. Lalu dia memelukku, kemudian menggenggam tanganku untuk menuntunku jalan disampingnya. Selalu begitu.
                Terkadang ingin rasanya aku memberontak. Tidak mendengar keluhannya. Tidak mau mengerti apapun yang terjadi padanya. Ingin rasanya. Ngambek dan cuek padanya. Enggan mempedulikan celotehan manisnya yang slalu membuatku luluh disaat aku marah. Tetapi aku tak berdaya. Mungkin ini karena cinta.
                Aku memberhentikan langkahku yang sejak tadi terus mengikuti kemana pun kakimu melangkah. Tanganmu pun tertahan oleh genggamanku. Dan secara tidak langsung langkahmu pun terhenti. Kamu langsung berbalik ke arahku. “kenapa sin?” aku seperti tak tersadar. Aku melamun.
                “sintya...”tangannya menyentuh wajahku, merapikan helaian rambutku dan menyentuhnya lembut. Dia romantis. “sayang..” panggilnya lagi.
                “eh...”
                “kok ngelamun? Ada apa?”kali ini raut wajahnya berubah heran. “ada masalah? Cerita lah” tangannya menuntunku ke arah tempat duduk yang ada di sekitar kami.
                “yan, kamu pernah enggak. Ngerasa seseorang itu adalah belahan jiwa kamu. The one and only?”ucapku sambil menatap raut wajahnya yang terlihat semakin heran. Entah karna sifatku yang tiba-tiba ini. Atau karena bingung dengan pertanyaan yang telah ku berikan.
                “the one and only? Entahlah. Kenapa?”
                Aku kaget dengan jawabnya. Sedikit kecewa. Karena jawaban yang aku harapkan tidak keluar dari bibirnya yang terlalu sering membuatku luluh. Wajahnya sekarang terlihat sedikit tenang. Seolah-olah dia tak merasakan hal yang aku rasakan sekarang. Atau mungkin memang tidak. Atau mungkin hanya aku yang terlalu mencinta disini? Lalu apa posisi aku dimata dia? Aku kembali melamun. Hal sepele sih. Ini lah perasaan wanita. Sesuatu yang sederhana pun mampu membuat hatinya tergoreskan luka. Namun hatinya tetap tegar diatas luka yang terkadang cendrung hadir dari pikiran-pikiran sederhananya.

                “sin, kamu laper enggak? Makan dulu yuk.”tatapan matanya masih sama. Aku mencoba melupakan hal tadi. Aku tak ingin membuat masalah. Aku tak ingin memperkeruh suasana. Umurku bukanlah lagi umur yang wajar untuk mempermainkan suatu hubungan. Mungkin tuhan punya rencana lain tentang ini. Everthing happen for a reason..

Pergi atau Tetap Tinggal (2)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hey Ers💛

Aku benci setiap kali harus pulang setelah perjalanan panjang yang kita lalui bersama Aku benci sore Aku benci waktu yang berlalu begitu cepat ketika kita sedang bersama Bby, ingin ku sederhana. Harapku tak muluk muluk. Aku telah ingin pulang bersamamu Hidup di satu ruang yang sama Mencintaimu dengan utuh Tanpa jeda Spasi Atau pun jarak. Ku harap sang pencipta rasa yang ada di dada kita sekarang. Akan mendengarnya. Lalu menyegerakan kita untuk segera bersama. Dengan halal. Sayangmu ini, selalu menyayangimu bby. 💋

Hai... Raion

Hai, raion. Kamu apa kabar? Ku harap, kabarmu baik. Walau tak pernah dapat ku pastikan bagaimana kabarmu sebenarnya disetiap harinya. Kamu masih ingat, enggak? Waktu pertama kali kita saling mengenal, ataupun waktu pertama kali social media kita saling bertaut. Raion… Kalau aku boleh jujur. Dari awal kita saling mengenal. Ada hal berbeda yang aku rasakan yang sebelumnya belum pernah aku rasakan di orang lain. Walau sampai saat ini pun aku belum mengetahui hal itu apa. Dulu, sebelum kita akhirnya berkenalan. Disaat hubungan kita masih hanya sekedar social media yang bertautan. Aku suka mempehatikanmu. Melihat feed Instagram-mu, instastory-mu, yang walau terkadang tidak ada pergerakan apa-apa. Terkadang iseng sembari menggeser kursor keatas-bawah saat melihat feedmu. Bibirku bersholawat. Aku merasa kamu cukup mengagumkan, raion. Kalau aku tidak salah mengingat. Interaksi awal kita adalah disaat aku terkena musibah pertengahan tahun lalu. Kamu, mencoba menguatkan aku dan menberik...

Friend Never End

            Taukan, sekarang bulan berapa? Dan waktu kita untuk bernafas diudara yang sama tak lagi lama. Dua tahun diatap yang sama selama 6jam itu bukan waktu yang singkat. Udah pasti banyak suka dan dukanya. Banyak tengkar dan tertawanya. Ada nangisnya juga. Marah-marahan. Udah deh.. gak perlu dijelasin panjang lebar. Kita yang sering disebut-sebut guru sebagai kelas unggulan, karna kita hidup dikelas IPA1. Dan sering juga kita juluki GEOMETRIS, terdiri dari 31 orang yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Ada 7 orang cowok ganteng dan 24 cewek manis.             Kehidupan bersama kita berawal pada bulan Juli 2012. Pada awal masuk kkelas itu. Kita semua belum saling kenal. Belum saling akrab. Cuma sekedar tau nama panggilan masing-masing. Ada salah satu teman cewek kita dikelas itu yang agak menonjol. Anaknya cantik, tapi rada tomboy, suka nyeplos...