Tetapi dari setiap kekurangan yang dia punya. Dari setiap
kesalahan yang telah diukirnya dihidupku. Dia pun telah menciptakan beragam warna
di dalam hati dan pikiranku yang membuatnya menjelma menjadi pelangi di dalam
hidupku. Senyumannya, canda-tawanya, manjanya dikala sakit, caranya untuk
membuatku tersenyum dan tertawa selalu, perhatiannya, mungkin semua hal itu
yang mampu untuk selalu menghancurkan setiap rasa amarahku padanya. Pengertian. Mungkin
juga karena itu.
Dulu,
diawal kami pacaran. Mama aku tidak menyetujui hubungan kami. Entah karna hal
apa. Aku memilih untuk menyembunyikan hal itu darinya dulu. Sampai akhirnya
suatu saat aku pun mengatakan hal itu kepadanya. Dia kecewa. Seketika sifatnya
mulai berubah. Tidak seperti biasanya. Menghilang tanpa kabar. Setiap pesan
singkat yang aku kirim pun slalu terlambat dibalasnya. Sampai suatu ketika. Dia
mengirimkan aku pesan singkat. Yang berisikan harapannya untuk mengakhiri
hubungan ini. Aku kecewa. Sedih. Apakah hanya aku yang selalu berharap hubungan
ini harus tetap ada? Apakah hanya aku yang selalu mencinta? Apakah hanya aku
yang selalu menginginkan bila hubungan ini adalah cinta terakhir? Mungkin hanya
aku.
Aku
mencoba menanyakan setiap alasan yang ada. Dia tetap tidak ingin menjawab. Ini bukan
karena aku. Dan ini juga bukan kesalahanku. Lalu apa? Dalam diam aku terus
menangis. Berharap bila pikirannya tiba-tiba akan berubah. Aku terus meyakinkan
dia. Untuk tetap disini bersamaku. Melewati hari-hari yang gelap untuk dapat
kita terangi bersama.
Sore
itu aku sendirian dirumah. Jadi tak ada seorang pun yang tau bila aku menangis
karnanya. Andai ada mama. Mungkin dia akan marah. Karena dia benci wanita yang
lemah. Apalagi bila aku harus menangis karena lelaki yang tak pantas untuk
diperjuangkan. Tetapi itu bagi mama. Bukan aku. Bagiku dia adalah seseorang yang
pantas untuk aku perjuangkan. Dan aku berharap dialah masa depanku.
Dari
setiap pesan singkat yang aku kirimkan kepadanya. Semua berisikan tentang pesan
singkat akan dia tetap bersamaku disini. Hingga akhirnya dia pun luluh. Dan pesanku
dibalasnya “tunggu aku selesai sholat maghrib dulu ya. Aku butuh waktu untuk
ini”. Seketika perasaanku sedikit melega. Dan aku yakin. Dia tidak akan pernah
pergi dariku. Dia akan tetap disini bersamaku. Apapun keadaan kami nanti. Sambil
menunggunya, aku pun juga sholat dan berdoa agar pikiran dan hatinya akan tetap
selalu terisi dengan aku.
Hampir
satu jam aku menantikan pesan singkatnya. Hingga aku meragu bila dia akan
kembali. Tetapi tiba-tiba.. “maaf ya sayang. Aku gegabah. Maaf aku udah
buat kamu kecewa. Maaf aku udah buat kamu nangis. Aku cinta kamu”. Dan
tiba-tiba telponnya pun masuk..
“thanks
ya yan.. aku juga cinta kamu”
“sin,
maafin aku ya..”
“iya
yan.. wajar kamu gini dengan posisi kamu yang enggak bisa diterima mama aku”
“aku
di depan rumah kamu sin”
Aku
cepat-cepat lari keluar. Dan saat ku buka pintu.. “sintaaa” dia memeluk tubuhku
erat. Hingga tubuhku tenggelam kedalam pelukannya. Dalam peluknya aku
mendengarkan detakan jantungnya. Helaan nafasnya. Juga wangi parfumnya. Lelaki masa
depanku. Inikah kebahagian itu? Yang harus slalu di iringi dengan kepedihan dan
kesakitan. Haruskah?
Pergi atau Tetap Tinggal (1)
Pergi atau Tetap Tinggal (1)
Komentar
Posting Komentar