Takut
Kita gak akan pernah tahu. Kepada
siapa hati ini kan meletakan cintanya. Yang ia tahu hanya hadir, tanpa
diundang. Dan pergi, tanpa pamitan.
Aku
pernah begitu mencintai. Begitu mengagumi. Bahkan mungkin menggilai. Seseorang
yang hadir ke dalam kehidupanku. Diawal aku mulai mencoba untuk mengenal, makna
dari cinta. Namun karenanya aku terluka, aku patah. Cinta yang ku kira adalah
sesuatu yang menyenangkan, penuh
keindahan, tetapi berakhir melukai. Itu cinta?
Aku
lelah. Hingga akhirnya aku enggan untuk mengenal cinta lagi. Aku takut. Aku
takut untuk patah lagi. Aku terlalu lemah untuk berjuang. Dan aku terlalu bodoh
untuk mencinta. Mungkin itu semua salahku. Yang selalu salah mengartikan setiap
sikap seseorang di dalam kehidupanku. Enggak selalu orang yang perhatian itu
cinta. Enggak selalu orang yang peduli itu sayang. Itu sikap manusiawi sesama makhluk hidupnya tuhan. Jangan buru-buru dibawa perasaan deh. Kalau udah patah,
luka, tahunya nanti Cuma diam. Terus nangis. Semua yang dilakukan tanpa semangat.
Senyuman pun terasa hambar. Bahkan tertawa pun, ada sesak yang tertahan di
dada. Salah siapa? Salah hati yang salah mengartikan makna yang ada. Coba deh
mikir dulu yang jernih, sampai mateng, baru deh beranggapan yang benar. Biar
enggak luka lagi.
“cinta
itu enggak sejahat itu zira..”
“aku
gak bilang cinta itu jahat nadra..”balasku sambil menelurusi rak-rak buku
perpustakaan kampus.
“lalu
kenapa dengan Adrian? Kenapa kamu cuekin dia terus. Dia itu cinta kamu ra..”
“cinta?
Kamu tau hal itu dari mana? Emangnya dia ada bilang?”
“enggak
sih. Tapi kan kita bisa lihat. Cara dia ngelihat kamu. Ngobrol bareng kamu. Apa
hal itu kurang ngejelasin?”
“nadra…
jangan suka cepat-cepat bawa perasaan. Apalagi kalau lelaki itu belum pernah
ungkapkan itu ke kita. Yang udah ngungkapkan aja bisa bohong dengan
perasaannya. Apa lagi enggak?”
“tapi
Fazira…”tanpa sengaja nadra memanggil namaku dengan suaranya yang kuat.
Sehingga membuat orang-orang disekitar kami pun memperhatikan. Aku hanya
tersenyum simpul, lalu kembali mencari buku yang ku maksud dirak-rak buku.
Entahlah.
Hati ini terlalu berat untuk terbuka lagi. Bukan karena aku belum bergerak maju
atas luka yang lalu. Tetapi karena aku masih ingat perihnya luka yang lalu. Dan
aku, hanya bisa mengobati sendiri lukaku dulu. Sendiri. Itu sebabnya aku begini
sekarang.
Mungkin
aku gak adil untuk Adrian karena telah bersikap seperti ini padanya. Tetapi
jika dia benar tulus mencintaiku. Jika tidak. Sikap ku ini adil atas diriku
sendiri. Aku terselamatkan dari luka yang menghujam itu lagi. Aku tidak pernah
bermaksud untuk bersikap dingin kepada setiap orang-orang yang ada di
sekitarku. Aku hanya mencoba mengantisipasi. Untuk tidak terluka lagi. Apa aku
salah?
Adrian.
Bukan sesuatu yang harus aku herankan lagi jika dia selalu mengirimkan aku
pesan-pesan singkat di setiap harinya. Sapaan dipagi hari. Hingga menjelang
tidur. Itu selalu mengisi setiap hariku. Menungguku pulang dikantin kampus,
lalu mengantarku. Walau sering ku tolak. Usahanya tidak pernah habis untuk
terus menahanku untuk pulang bersamanya. Hingga suatu hari, Adrian hilang entah
kemana. Tidak ada jemputan, tidak ada pesan singkat, atau pun telepon. Aku
merasakan ada sesuatu yang hilang. Tetapi aku tetap berusaha tidak terlalu
memikirkannya. Mencoba menganggap segalanya baik-baik saja.
Tiga
hari berlalu. Aku tanpa Adrian. Tanpa sadar mengecek telepon genggam tanpa
pesan singkat Adrian sekarang menjadi kebiasaanku. Mengunci lalu membukanya,
kemudian menguncinya lagi. Bahkan saat diperpustakaan yang biasanya ku habiskan
untuk membaca buku atau artikel di internet dengan jaringan wi-fi. Saat ini
tanpa sadar aku gunakan untuk stalking setiap akun media sosialnya Adrian.
Tetapi aku tidak menemukan jawaban apa pun. Aku khawatir padanya. Tuhan… apa
artinya ini?
“zira!”nadra
datang dengan mengagetkanku.
“ya
ampun nadra… mau aku mati karena sakit jantung?”
“kamu
suka berlebihan gitu deh ra. Biasa aja kali. Eh, by the way…”
Aku
langsung meninggalkan nadra tanpa pamit. Karena aku tahu, pasti dia akan
menanyakan keberadaan Adrian padaku. Sesuatu yang juga sedang ku cari
jawabannya. Apa aku harus menggulung bumi ini? Untuk tahu dimana Adrian
sekarang? Maafkan aku Adrian. Aku suka berpikir yang aneh-aneh tentang kamu.
Aku suka mikirin hal yang buruk ke kamu. Maaf Adrian…
Komentar
Posting Komentar