Hujan dan cinta. Adakah yang pernah berpikir kalau hal itu akan saling berkaitan pada akhirnya dihidup kita? Mungkin tak seorang pun pernah memikirkannya. Kecuali aku. Aku pernah berpikir kalau kita seperti dua cermin yang saling bertatap. Kita memiliki sejuta persamaan. Namun tidak tentang cinta. Karna disaat aku berpikir bila cintaku adalah kamu. Kamu malah berpikir kalau cintamu adalah dia. Iya. Dia. Seseorang yang kamu kenal, setelah beberapa lama kita tlah mengenal sebelumnya.
Aku tak perlu menyebutkan dia siapa. Aku tak ingin semakin
membuat goretan-goretan ini semakin terukir jelas dihati ini. Cukup atas rasa
sakit yang kemarin tlah kau oreskan didalam hati ini. Karna sampai sekarang pun
aku berani bersumpah. Kalau kamu tak pernah tau bila perlakuanmu kemarin tlah
membuat luka lebar di hati ini. Sakit. Perih. Aku tak tau. Bila harus dibawa ke
dalam ilmu medis. Harus dijahit hingga berapa jahitan luka ini agar benar-benar
sembuh. Entah kapan luka ini bisa kering. Aku lelah. Atas hal sia-sia yang
telah aku perjuangkan dulu. Andai dulu aku tau. Jika senyuman manis yang dulu
itu akan berakhir sepahit ini. Mungkin aku lebih memilih terhempas keras di
dasar laut. Daripada harus melihat tanganmu harus menggenggam tangan wanita itu
di depanku. Dan aku berusaha untu selalu merasa biasa. Harus sampai kapan? Aku
berusaha membantumu dalam drama ini?
Aku terus berusaha kuat. Berusaha kokoh. Padahal badai terus
menghantam pertahananku. Aku lelah bila harus menunggumu akan berbalik
memandangku lagi nanti. Karna itu tak akan pernah menjadi mungkin. Hadirnya
gerimis disetiap soreku. Mungkin itu tlah cukup mewakili hadirmu yang dulu. Aku
bingung. Enggak ngerti. Kenapa waktu itu aku bisa mencintaimu. Di depan halte
bus. Sepulang aku sekolah. Di bawah hujan yang lebat. Tak sengaja aku
terpeleset karna terburu-buru berlari ke halte karna harus berteduh. Dan
tanganmu mencegahku untuk tak terjatuh. Waktu itu begitu singkat. Karna kita
harus terpisah dengan arah pulang yang berlainan. Dan saat itu senyuman manismu
tlah tercipta untukku. Tapi bodohnya aku. Tlah menggangap hal itu sebongkah
berlian yang berharga.
Selanjutnya kita kembali bertemu. Dengan suasana yang sama.
Hujan yang lebat. Dan di bawah halte. Namun keadaan saat ini semakin membuatku
terbang. Kamu membalut tubuhku yang kuyup dengan jaket hangatmu. “pake aja.
Kamu pasti sangat butuh ini” lalu kamu meninggalkanku dan pergi dengan bismu.
Ntah apa maksudmu dari semua hal ini. Hari demi hari perlakuanku kepadaku
semakin membuatku terpesona. Hingga akhirnya kita bertukaran nomer handphone.
Aku mulai tau siapa club bola favoritmu, makanan apa yang paling kamu suka, hal
bodoh yang terlalu sering kamu lakukan tanpa sadar,juga waktu-waktu yang sering
kamu habiskan sendirian. Aku mulai tau jika kamu selalu rela bangun tengah
malam demi mengejar tugas-tugas kuliahmu. Aku juga mulai tau, jika kamu anti
banget dengan kecoa. Hampir semua tentangmu aku mulai mengetahuinya. Dan aku
berharap juga mulai berharap hubungan kita pun akan lebih dari ini.
Tapi tidak. Semua tak seperti yang aku harapkan.
Kamu hilang. Kamu pergi. Entah kemana. Dihalte pun aku tak
pernah jumpai kamu lagi. Semuanya seolah-olah terencana. Drama ini terlihat
begitu rapi dan cantik. Sehingga aku dengan bodohnya pun rela menjadi tumbalmu.
Enam bulan setelah kamu hilang. Aku telah duduk di kursi
perkuliahan. Tak sengaja aku melihatmu dengan seorang gadis. Cantik. Tapi tak
seperti bayanganku tentangmu. Aku pikir kamu adalah lelaki yang soleh. Yang
selalu merelakan setiap waktunya untuk beribadah. Namun mengapa wanitamu
seperti wanita penggoda? Dengan rok diatas lutut juga baju tanpa lengan. Kamu
menggenggam tangannya erat dan memamerkannya dengan teman-temanmu.Apakah itu
salahku. Tidak seksi. Tanpa make up. Juga hal-hal yang mahal. Apa itu kurangku?
Namun apa makna dari waktu itu? Apa arti dari kejadian enam bulan yang lalu?
Terima kasih atas rasa sakit ini. Karnamu, hujan yang ku
anggap hal yang sial menjadi sangat berarti dan bermakna. Dan karnamu juga.
Setiap waktu hujanku menjadi waktuku untuk mengenangmu dengan setiap air mata
yang setia mengalir di pipiku.

cerpennya keren
BalasHapusthanks yaa :) baca yang lain juga yaa
Hapuskeren kok cerpennya. Kisahnya kena banget sama aku :') tapi tehnik penulisannya tolong diperbaikin yah, coba kamu yang cek sendiri ajah ya :) itu ajah sih saranku. berkunjung juga dong ke blogku http://nisaramadhanii.blogspot.com makasiihh
BalasHapusiya. aku suka typo niss :((
Hapusblog kamu juga keren kok (Y)
oke. thankyouuu yaaa
BalasHapuscerita yang disukain apa sih? pengen tau ajah :D
BalasHapuscomment di blogku ya. saran, yg disuka dan lainnya. maaf banyak nanya :D mksdku disitu cerita apa yg kmu suka dri isi blogku hehe :D maaf banyak nanya. waduh :D
BalasHapusmention aja mending niss :) @Naizaa_
BalasHapussipsip. fllbck ya
BalasHapus