Air mengalir, udara berhembus. Rintikan hujan pun mulai membasahin
kekeringan. Daun-daun kuning pun kini telah menunjukan kesegarannya kembali.
Takdir. Iya, takdir. Semua hal itu terjadi dikarnakan halnya takdir. Seperti
layaknya cinta. Mengalir di dalam hati hingga menjalar ke bagian otak dan mempengaruhi seluruh organ lainnya untuk ikut
berpengaruh kedalamnya. Cinta. Kata yang sederhana, namun dapat member pengaruh
besar. Karnanya kita tersenyum, karnanya kita tertawa, karnanya juga air mata
harus mengalir di pipi yang seharusnya tak layak untuk terjadi.
“jadi, bagaimana hubunganmu dengan pacarmmu sekarang?”
“baik-baik aja. Dia orang yang asik, mampu melengkapi
aku, gak macem-macem. Dan dia selalu ada buat aku, kapan pun aku mengharapkan
kehadirannya.”
“jadi ceritanya kamu udah melupakan si mahasiswa yang
dulu kamu agung-agungkan itu, fa?”
“mungkin…”
“mungkin? Jadi kau masih mengharapkan hadirnya juga?”
“mungkin…”
“kenapa mungkin? Berarti harapanmu kepada dia belum
benar-benar hilang fa?”
“aku takut untuk menjawab tidak. Aku takut bila ternyata
dalam diam hatiku masih berharap. Aku takut, karna aku tak pernah tau apa yang
akan dilakukan takdir besok padaku.”
“kau masih mengatakan ini takdir? Bukankah ini
kemauanmu?”
“apalagi kalau bukan takdir? Suatu hal yang terjadi,
suatu hal yang hadir tanpa perencanaan yang aku sendiri pun tak tau.”
“ya udah, kan intinya kamu masih berharap akan hadirnya
dihidupmu,kan?”
“mungkin…”
“sampai kapan kamu benar-benar bisa ngeyakinkan hati
kamu, kalau kamu emang udah bisa ngelepaskan dia?”
“rai, cinta itu gak bisa dipaksakan. Cinta itu gak bisa
diatur. Kapan dia mau datang, kapan dia mau pergi. Semua itu terserah dia, aku
hanya bisa menjagakan.”
“iya, menjagakan cinta orang yang jelas-jelas udah
bahagia dengan orang pilihannya. Itu yang harus dijagakan? Jadi apalah gunanya
kamu pacaran dengan pacarmu yang sekarang? Toh, kamu malah menggoreskan luka
kan dihatimu juga hati cowok itu?”
“inilah bedanya.bedanya jalan pikiran kita. Taukah kamu?
Bahagia itu butuh pengorbanan? Dan inilah pengorbananku”
Raisha pergi
meninggalkan shifa sendirian di taman. Ditempat biasa mereka menghabiskan waktu
bersama setelah pulang kuliah. Terkadang mereka saling curhat, tentang pacar,
mata kuliah dikampus, atau pun tentang orang yang mereka kagumi. Namun
kegigihan hati shifa untuk tetap bertahan dikesakitannya, membuat amarah raisha
meledak. Mahasiswa itu bukanlah orang yang baru di telinganya. Dia tau, kalau
shifa mengagumi lelaki itu dari masa dia SMA dulu. Awalnya, raisa menyetuju hal
itu. Karna dia pun awalnya beranggapkan kalo mahasiswa itu anak yang baik.
Gigih, rajin, seseorang yang memang pantas untuk dikagumi. Tapi, raisha tau.
Bagaimana kedekatan antara shifa dan mahasiswa itu. Dan awalnya raisha
berpikir, mereka akan benar-benar jadian. Tapi nyatanya? Mahasiswa itu telah
menuliskan nama cewek lain di status hubungannya. Dan hal itu membuat berpikir,
mahasiswa itu tak sebaik yang dia kira.
“rai, masih marah?”
“pertanyaan itu gak salah fa?”
“iya rai, aku tau kok. Maaf ya rai…”
“aku gak butuh kata maaf itu… yang aku mau. Kamu
ngelupain dia, dan jalani hubungan kamu dengan Wahyu. Kamu tau kan? Wahyu
sayang banget sama kamu? Jadi kenapa kamu masih ngarepin si mahasiswa itu?”
“iya rai, maafin aku ya… aku janji deh, gak akan ngarepin
simahasiswa itu lagi..”
“aku gak perlu janji kamu fa. Aku mau bukti”
“apa? Apa yang bisa kamu buktikan?”
“aku janji, aku sumpah. Kalau aku dan wahyu, bakalan
lewatin hubungan ini lewat dari sebulan.”
“apa gunanya itu? Percuma!”
“enggak rai, semua itu gak akan percuma. Kamu masih
ingetkan, waktu kamu bilang aku mencintai andre karna terlalu biasa bersamanya.
Dan disaat dia hilang, aku pun kecarian akan hadirnya. Kamu juga masih ingatkan
dengan perkataan kamu yang bilang, semua dimulai karna adanya niat. Kalau dari
awal niatnya udah kuat, keyakinan pasti kan tercapai. Dan kamu juga masih
ingatkan,rai? Tentang…”raisha memotong pembicaraanku.
“cukup,fa. Iya aku masih ingat. Apalagi yang tentang,
gimana bisa kita membuat luka itu kering kalau nyatanya…luka itu tak pernah
kita buka. Kayak pelajaran biologi yang tentang bakteri. Luka yang ditutup,
akan membuat datangnya mikroba yang dapat membuat luka itu menjadi infeksi. Jadi,
kalau luka yang kita punya itu terus-terusan ditutup. Yang ada hanya akan
memperlambat luka itu kering. Persis kayak luka dihati juga…”
Shifa meneteskan air matanya yang sedari tadi dia coba
untuk dibendung. Lakinya melangkah cepat kearah raisha. Lalu memeluk sahabatnya
itu dengan erat. Sambil berkata..
“maafin aku rai, uda egois.”
“enggak apa-apa,fa… aku ngerti kok”
“makasia ya rai, selalu sabar buat ngingetin aku”
“itulah gunanya sahabat,fa. Dia menuntunmu kearah yang
positif, bukan negative. Dia yang tetap bertahan disaat egomu membatu, dan
tetap berdiri disampingmu walau senyummu sulit untuk kau selipkan.”
Kepada hati yang terlalu kuat
bertahan.
Sampai kapan harus kau abaikan hati
yang terus memujamu.
Hati yang terus mencintamu.
Namun kamu, tetap bertahan difatamorgana
yang menyesakkan.

hi :) blog mu keren banget lo. gimana sih caranya untuk naro jam sama musik di blog? ajarin ya. soalnya baru buat blog juga nih :)
BalasHapushehe, makasii :) liat pengaturannya aja kak :) browsing di google. aku juga blajar dari google :))
BalasHapuskayaknya bukan aku kakak deh. Mungkin kamu yang kakak yah, soalnya aku liat ada foto sama temen pake seragam sma. hehehe. Udah tau kok caranya. Kasi masukan di blog ku ya :) nisaramadhanii.blogspot.com
BalasHapusemg kamu smp ya???
BalasHapusassalammulaikum..
BalasHapussalam kenal azura. blog kamu bagus dan menarik aku baca. :)
oh ya kunjungi blog aku juga ya. kalau bisa tinggalkan dikritik atau saran ttg tulisan aku :)
trims.