Langsung ke konten utama

Kamuku

Kamuku.
Entah kapan tepatnya detakan jantungku dipengaruhi oleh hadirmu. Frekuensinya semakin tinggi, disaat tanpa sengaja pandanganku terarah padamu. Jangan tanya lagi kapan awalnya. Karena hasil dari pertanyaan itu kelak takkan menemukan jawabnya. Tetapi kan menghasilkan hujaman yang dahsyat di jantungku karena harus terfokus untuk memikirkanmu.
                Aku pernah baca sebuah kutipan cinta “kita takkan pernah tahu kepada siapa hati ini kan memilih, tetapi kita harus tahu kepada siapa hati ini harus berjuang”. Bukankah cinta tak semudah itu untuk terkontrol?
                Kita. Kamu dan aku. Tak pernah merencanakan hadirnya rasa ini dahulu. Dan saat ini dia hadir diantara kita. Karenanya tertawa bersamamu terasa begitu menyenangkan. Karenanya berbagi denganmu merupakan sebuah kebahagiaan. Dan juga karenanya, tetesan air mataku terasa sebagai sebuah perjuangan. Detik-detik waktu panjang yang pernah kita lalui terasa begitu singkat.
                Kita pernah saling memiliki cinta yang berbeda sebelum akhirnya kita memiliki cinta yang sama. Kamu dengan kekasihmu, begitu pun aku. Entah apa yang tuhan rencanakan kepada kita. Hingga kini, kamulah sang kekasihku. Kamu yang memiliki perhatian, peduli, sayang, khawatir, bahkan cinta yang ku punya. Aku sempat meragu akan rasamu, hingga akhirnya ungkapan dan tindakanmu menjawab raguku. Kamu milikku.
               Tak sekali hal-hal sederhana menjadi penyedap rasa yang kita punya. Tak sekali ada api yang menyulut diantara kita. Dipengaruhi ego yang kita miliki. Membakar lembaran-lembaran yang belum sempat tertulis oleh kisah. Namun ada kalanya kedewasaan itu hadir. Menjadi pereda api yang telah membara. Yang menyadarkan, saat ini bukan lagi saatnya untuk menambah bab dari buku kehidupan dalam judul percintaan. Tetapi sekarang adalah saatnya untuk meneruskan halaman yang telah ada untuk terus kita sempurnakan bersama.
                Hingga disuatu sore kamu sempat menanyakan hal itu padaku.
                                “kamu ingat kapan kita awalnya kenal?”
                                “kapan ya? Aku gak ingat”
                                “aku juga”
                                “yang jelas dulu aku belum cinta kamu”
                Tatapanmu mewakili tanggapanmu.
                                “bener kan yang aku bilang?”lanjutku.
                Sekali lagi tatapanmu menjawabnya.
                                “apa yang salah?”lanjutku lagi.
                Hingga akhirnya bibirmu yang menjawabnya.
                                “aku juga belum cinta kamu waktu itu.”
                                “iya itu, makanya kita lupa”
                Matamu terus menatapku. Jantungku terus menghujam. Waktu yang berdetik di arlogiku terasa terhenti. Dalam diam aku berharap “tuhan, jika aku boleh memohon padamu. Aku boleh minta dia buat aku aja ya? Jangan titipkan dia kepada siapapun lagi. Please, terus titipkan dia buat aku ya” dan aku berharap, semoga tuhan meng-iyakan harapanku itu.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hey Ers💛

Aku benci setiap kali harus pulang setelah perjalanan panjang yang kita lalui bersama Aku benci sore Aku benci waktu yang berlalu begitu cepat ketika kita sedang bersama Bby, ingin ku sederhana. Harapku tak muluk muluk. Aku telah ingin pulang bersamamu Hidup di satu ruang yang sama Mencintaimu dengan utuh Tanpa jeda Spasi Atau pun jarak. Ku harap sang pencipta rasa yang ada di dada kita sekarang. Akan mendengarnya. Lalu menyegerakan kita untuk segera bersama. Dengan halal. Sayangmu ini, selalu menyayangimu bby. 💋

Hai... Raion

Hai, raion. Kamu apa kabar? Ku harap, kabarmu baik. Walau tak pernah dapat ku pastikan bagaimana kabarmu sebenarnya disetiap harinya. Kamu masih ingat, enggak? Waktu pertama kali kita saling mengenal, ataupun waktu pertama kali social media kita saling bertaut. Raion… Kalau aku boleh jujur. Dari awal kita saling mengenal. Ada hal berbeda yang aku rasakan yang sebelumnya belum pernah aku rasakan di orang lain. Walau sampai saat ini pun aku belum mengetahui hal itu apa. Dulu, sebelum kita akhirnya berkenalan. Disaat hubungan kita masih hanya sekedar social media yang bertautan. Aku suka mempehatikanmu. Melihat feed Instagram-mu, instastory-mu, yang walau terkadang tidak ada pergerakan apa-apa. Terkadang iseng sembari menggeser kursor keatas-bawah saat melihat feedmu. Bibirku bersholawat. Aku merasa kamu cukup mengagumkan, raion. Kalau aku tidak salah mengingat. Interaksi awal kita adalah disaat aku terkena musibah pertengahan tahun lalu. Kamu, mencoba menguatkan aku dan menberik...

Friend Never End

            Taukan, sekarang bulan berapa? Dan waktu kita untuk bernafas diudara yang sama tak lagi lama. Dua tahun diatap yang sama selama 6jam itu bukan waktu yang singkat. Udah pasti banyak suka dan dukanya. Banyak tengkar dan tertawanya. Ada nangisnya juga. Marah-marahan. Udah deh.. gak perlu dijelasin panjang lebar. Kita yang sering disebut-sebut guru sebagai kelas unggulan, karna kita hidup dikelas IPA1. Dan sering juga kita juluki GEOMETRIS, terdiri dari 31 orang yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Ada 7 orang cowok ganteng dan 24 cewek manis.             Kehidupan bersama kita berawal pada bulan Juli 2012. Pada awal masuk kkelas itu. Kita semua belum saling kenal. Belum saling akrab. Cuma sekedar tau nama panggilan masing-masing. Ada salah satu teman cewek kita dikelas itu yang agak menonjol. Anaknya cantik, tapi rada tomboy, suka nyeplos...