Diam
Andai tuhan memberikan aku sebuah
permintaan terakhir. Aku pastikan meminta seribu kesempatan. Yang akan selalu
ku isi dengan kamu, kamu, dan kamu.
Mata
saling menatap. Hati saling mencinta. Namun bibir tetap trus terkatup. Entah
sampai kapan. Jantungku trus menghujam. Berusaha untuk mendorongku agar
mengungkap apa yang selama ini tlah ku pendam sendiri. Namun ego lebih kuat.
Ketakutan membuatku terperanjat dan memintaku untuk terus diam. Karna keadaanmu
yang kini tlah menjadi kekasih orang lain.
Aku ke
barat. Kamu ke timur. Kita tidak pernah mempertemukan arah yang sama agar kita
bisa tanpa sengaja benar-benar bertemu. Tanpa rencana.
Ingin rasanya berselisihan disampingmu. Melihat lekat setiap lekukan wajahmu
disampingku, walau hanya sesaat. Sesaat, namun penuh makna. Aku lelah bila
harus pura-pura melihat kelain arah setiap kali mata kita harus saling
bertatap. Aku lelah pura-pura tidak melihatmu, setiap kali mata kita bersatu
diantara kerumunan orang-orang yang ada disekitar kita. Konyol memang. Diantara
orang-orang yang riuh menyesakkan, tuhan mengizinkan kita untuk tetap saling
memandang. Hingga akhirnya terkadang aku lupa. Jika saat itu juga tanganmu
sedang digenggam oleh orang asing itu.
Tetapi
kenapa kita bertemu? Jika hanya akan tercipta suatu perpisahan? Andai dulu rasa
penasaranku terhadap hadirmu tak pernah hadir. Atau tepatnya... Andai dulu rasa
penasaranku tak terlambat untuk hadir. Mungkin sekarang tanganmu ada didalam
genggamanku. Mataku tak harus lelah menelusuri yayasan ini mencari hadirmu yang
ujung-ujung hanya akan membuat nafasku sesak karna melihatmu selalu
disampingnya. Entah kapan waktunya. Disaat aku menemukanmu , tanganmu
melambai dan menghampiriku.
___________________________________
Izinkan
aku berbalik. Berbalik kearah dimana awal kita kenal. Mungkin tepatnya saling
tahu. Awal disaat rasa ini belum hadir. Belum ada jantung yang menghujam
kencang . Belum ada rasa yang penuh harap. Semuanya masih biasa. Melihatmu hanya
sebagai teman baruku.
Tanpa
sengaja waktu itu kita berkenalan lewat media yang bergengsi. Yang aku tahu,
kamu begitu menyukai temanku. Yang tidak
sengaja dia juga salah satu temanku di masa taman kanak-kanak dulu. Entah
lah. Sekilas hal itu hanya terpandang biasa bagiku. Namun lama kelamaan, aku tidak mengetahui hal apa yang mendorong ku kemarin untuk memulai perkenalan denganmu. Melalui pesan
singkat perkenalan kita dimulai. Saat itu aku senang setiap harus memulai
pertemanan baru. Tetapi hal itu terjadi berbeda dikamu.
Dan
akhirnya kita mulai saling mengenal. Kita saling menghapal tanggal lahir
masing-masing. Mulai mengetahui hal-hal yang terpaut istimewa.Dan,tanpa sadar
kita menyukai satu hal yang sama. Kita sama-sama hobi baca komik Naruto. Unik,
wanita manis seperti kamu hobi baca komik Naruto. Itu adalah salah satu daya
tarikmu buat aku.
Lambat laun, angin berhembus.
Rasa nyaman mulai merasuk jiwa. Walau hanya dengan pesan sederhana di setiap
harinya. Hal itu tlah cukup mencairkan kutub es yang tlah lama membeku di dalam
hatiku. Memberikan sejuta bintang yang indah. Dan menghadirkan pelangi yang
cerah setelah lama mendung yang terus menghampiri hidup ini.
“semangat
buat hari ini ya”
“iya,
dirimu juga ya”
Salah
kah aku? Jika dalam diam akhirnya aku nyaman. Dosa kah aku? Bila nyatanya
rasaku kita tlah berubah. Walau jika bertemu kita cendrung hanya saling
bertatap. Aku ingin waktu itu tak pernah berlalu. Jika hanya dalam mimpi aku
bisa benar-benar memilikimu. Adilkah jika aku berharap malam takkan pernah
hilang?
Cinta tak pernah bisa
memilih,
Siapa seseorang yang
pantas untuk dapat kita cintai.
Yang cinta tau hanya
hadir, lalu berdiam di tempat yang telah membuatnya nyaman.
Selalu...
Post lagi lah .ngefans ni ma kaka hihi :v
BalasHapus